History

Tarumanagara dan Institusi Kerajaan Sebelumya

Berdasarkan berbagai peninggalan artefaktual dan sumber tertulis berupa prasasti, sistem kerajaan di wilayah Jawa mulai muncul pada sekitar abad ke-4 Masehi ditandai dengan adanya kerajaan Tarumanegara. Tarumanegara menjadi institusi kenegaraan (kerajaan) pertama yang memiliki budaya pengaruh India (Hindu-Budha) di pulau Jawa.

(Komplek Percandian Batu Jaya)

Tarumanegara dengan Purnawarman sebagai rajanya meninggalakan jejak berupa beberapa prasasti (Prasasti Tugu, Ciaruteun, Kebon Kopi, Muara Cianten, Cidanghyang, Pasir Awi dan Pasir Jambu) yang berhuruf Pallava dan berbahasa Sansekerta. Sebagian dari prasasti tersebut ditemukan di daerah Ciampea, Bogor. Namun prasasti-prasasti itu tidak mencantumkan data kronologi sehingga para ahli sukar menentukan secara pasti kapan kerajaan Tarumanegara itu berdiri. Hanya dari bentuk aksara yang dikaji dari sudut paleografi, para ahli bisa melihat huruf yang dipakai dalam prasasti-prasati Tarumanegara memiliki kesamaan bentuk dengan prasasti-prasasti kerajaan Pallava di India Selatan pada abad ke-4 Masehi. Selain prasasti, para ahli juga mendapati tinggalan arca Hindu dari desa Cibuaya, Karawang Utara dan arca Durga-Kali di Tanjung Priok bisa dihubungkan dengan masa Tarumanegara. Sementara sisa bangunan yang dihubungkan dengan masa Tarumanegara adalah kompleks situs Batujaya Karawang yang bercorak agama Buddha Mahayana.

Memang banyak para ahli yang masih memperdebatkan masalah institusi kerajaan sebelum Tarumanegara melalui berbagai sumber sejarah seperti berita Cina dan bangsa Eropa atau naskah-naskah Kuna. Claudius Ptolemaeus, seorang ahli bumi masa Yunani Kuno menyebutkan sebuah negeri bernama Argyrè yang terletak di wilayah Timur Jauh. Negeri ini terletak di ujung barat Pulau Iabodio yang selalu dikaitkan dengan Yawadwipa yang kemudian diasumsikan sebagai Jawa. Argyrè sendiri berarti perak yang kemudian ”diterjemahkan” oleh para ahli sebagai Merak.

Kemudian sebuah berita Cina yang berasal dari tahun 132 Mmenyebutkan wilayah Ye-tiao  yang sering diartikan sebagai Yawadwipa dengan rajanya Pien yang merupakan lafal Cina dari bahasa Sangsakerta Dewawarman. Namun tidak ada bukti lain yang dapat mengungkap kebenaran dari dua berita asing tersebut.

Berita Cina lain mengungkapkan adanya utusan dari Ho-lo-tan, sebuah negeri di Shê-p’o  yang sering diartikan sebagai Jawa. Ho-lo-tan yang pernah mengirimkan utusan ke Cina pada tahun 430, 433, 434, 436, 437, dan terakhir 452 M. Tarumanagara sendiri menurut sumber-sumber berita Cina baru mengirimkan utusan ke Cina mulai tahun 528 M, yaitu dengan nama To-lo-mo atau toponim dari Taruma. Keberadaan negeri bernama Ho-lo-tan ini sangat menarik karena banyak dibicarakan dalam sumber berita Cina dan beberapa tafsiran dari para ahli yang menjurus pada adanya institusi kerajaan sebelum Tarumanagara.

Bukti-bukti sejarah memang mengungkapkan bahwa hubungan perdagangan antara Cina dan Indonesia telah berlangsung sejak awan masehi bahkan mungkin jauh sebelum itu. Mengirimkan utusan ke Cina secara rutin dengan mengarungi lautan selama berbulan-bulan jelas menunjukan adanya kesetaraan tingkatan antara Ho-lo-tan dan kerajaan Cina. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa negeri Ho-lo-tan ini merupakan negeri yang cukup besar sehingga mampu mengirimkan utusannya ke Cina.

Para ahli menyebutkan bahwa Ho-lo-tan adalah transliterasi Cina dari toponim Aruteun. Nama Aruteun mengingatkan kita pada sebuah sungai, Ciaruteun yang terletak di wilayah Ciampea-Bogor. Secara arkeologis, hal ini sangat mungkin mengingat di wilayah Ciampea dan sekitarnya banyak ditemukan peningalan-peninggalan dari masa prasejarah seperti kapak batu dan peninggalan megalitik, meskipun terdapat peninggalan dari masa sejarah dalam hal ini prasasti-prasasti masa Tarumanagara dan beberapa Arca bernafaskan agama Hindu-Budha.

***

Temuan-temuan arkeologis di wilayah sekitar sungai Ciaruteun atau Ciampea dan sekitarnya semakin memperkuat dugaan bahwa di wilayah tersebut telah ada satu tatanan kehidupan masyarakat sebelum Tarumanagara. Temuan-temuan arkeolgis di situs Pasir Angin yang terletak persis di tepi sungai Ciaruten merupakan salah satu jawaban. Temuan berupa artefak batu baik alat serpih dan beliung, perhiasan, pecahan tembikar, alat upacara dari batu maupun perunggu menggambarkan kehidupan masyarakat yang sudah kompleks. Sedangkan karakter dari kumpulan artefak  yang ditemukan jelas memperlihatkan bahwa Pasir Angin telah dihuni jauh sebelum Tarumanagara datang.

Di wilayah kampung Muara (termasuk sekitar Pasir Angin), kita dapat menjumpai tinggalan arkeologi berupa prasasti dari kerajaan Tarumanagara. Namun kita juga dapat menjumpai adanya satu budaya yang jauh lebih tua yaitu beberapa temuan tradisi  megalitik berupa batu tegak atau menhir, batu datar yang memiliki beberapa lubang atau dikenal dengan istilah batu dakon dan beberapa arca yang disebut sebagai arca megalitik. Tinggalan tradisi megalitik ini diduga merupakan sisa pemujaan terhadap nenek moyang (ancestor worship), merupakan kepercayaan yang berkembang sejak masa Prasejarah. Oleh karena itu dapat dikatakan lokasi tersebut merupakan tempat pemujaan leluhur bagi masyarakat sebelum era Tarumanegara. Hal tersebut menimbulkan tafsiran yang menyatakan bahwa sangat mungkin sebelum wilayah tersebut menjadi bagian Kerajaan Tarumanagara, telah terdapat pemerintahan terlebih dahulu. Bukti terbaru dari hasil penelitian Balai Arkeologi Bandung berupa hamparan lantai dari batu kali, menunjukan adanya perkampungan kuno di wilayah ini.

(Tinggalan Tradisi Megalitik di Kampung Muara)

Apabila semua perkiraan tersebut benar, kerajaan Aruteun sangat mungkin ditundukkan oleh Tarumanagara antara tahun 452—528 M. Wilayah Kampung Muara terletak di bukit kecil bernama Pasir Muara dan di sisi barat, Utara dan Timurnya dilewati aliran sungai Cianten, Cisadane dan Ciaruteun. Kondisi alam ini dinilai sangat  ideal bagi ajaran Veda  (agama yang dianut Purnnavarmman) karena disukai para Dewata. Oleh karena itu Kampung Muara jelas merupakan area yang dianggap penting oleh Purnawarman dan rasanya inilah yang menjadi alasan penaklukan kerajaan Aruteun oleh Tarumanagara.

Satu sumber berita Cina menyebutkan bahwa dalam salah satu kunjungannya, utusan dari Ho-lo-tan mengirimkan surat kepada raja Cina yang menerangkan bahwa negerinya sedang mendapat ancaman dari negara tetangga dan meminta perlindungan dan bantuan. Apakah mungkin yang dimaksud dengan negara tetangga tersebut adalah Tarumanagara? Hal tersebut patut dipertimbangkan namun tentunya memerlukan penelitian yang lebih lanjut, meskipun ada yang mengaitkan Tarumanagara dengan wilayah Bekasi sebagai pusat kotanya.

Penaklukan ini kemudian dilegitimasi oleh pernyataan-peryataan yang tertuang dalam prasasti. Sekurangnya terdapat dua prasasti yang menyatakan kejayaan Purnawarman sebagai raja Tarumanagara yang ditemukan di wilayah Ciampea, yaitu Prasasti Ciaruteun dan Kebon Kopi.

Prasasti Ciaruten jelas menunjukan keperkasaan dari Purnawarman yang diibaratkan sebagai dewa Wisnu. Prasasti Ciaruteun berbunyi: “Vikkrantasyavanipateh srimatah purnnavarmmanah tarumanagarendrasya visnoriva padadvayam” yang berarti “inilah (tanda) sepasang telapak kaki yang seperti kaki dewa Visnu (pemelihara) ialah telapak yang mulia sang Purnnawamman, raja di negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia”.

(Prasasti Ciaruteun di Kampung Muara)

Begitu juga prasasti Kebon Kopi yang menggambarkan betapa gagahnya Purnawarman dengan kendaraan gajahnya. “……jayavisalasya Tarumendrasya hastinah ….siravatabhasya vibhatidam  padadvayam”, yang dapat diterjemahkan: “Di sini nampak tergambar sepasang telapak kaki…yang seperti Airawata, gajah penguasa Taruma yang agung dalam….dan (?) kejayaan”.

(Prasasti Kebon Kopi, di Kampung Muara)

Hampir semua prasasti Purnawarman selalu ditandai dengan cap telapak kakinya, begitu pula dengan prasasti Ciaruteun. Sedangkan pada prasasti Kebon Kopi digambarkan telapak kaki gajah sebagai kendaraan dari Purnawarman. Prasasti-prasasti tersebut merupakan pernyataan bahwa daerah tersebut berada adalah wilayah taklukkan dari kerajaan Tarumanagara.

Takluknya kerajaan Aruteun oleh Tarumanegara tidak merubah tatanan kehidupan religi masyarakat setempat secara menyeluruh. Terbukti dengan tidak dihancurkannya peninggalan-peninggalan sebelumnya seperti menhir, batu dakon dan arca megalitk yang merupakan sarana atau media peribadatan masyarakat pra Tarumanagara. Benda-benda tersebut masih dapat kita jumpai sampai saat ini. Masyarakat kemungkinan diberikan keleluasaan dalam menjalankan ibadah sesuai keyakinan yang dianutnya.

Kemungkinan lain dari temuan tradisi megalitik tersebut berupa peninggalan pasca Tarumanagara dimana agama Hindu masyarakat Sunda Kuno memiliki kekhasan dibanding daerah lain. Agama Hindu kemudian melebur bersama kepercayaan asli masyarakat sunda dan kemudian berkembang pesat pada masa kerajaan Sunda, beberapa abad setelah Tarumanegara.

Namun semua itu jelas memerlukan penelitian lebih lanjut dan mendalam. Tafsiran di atas hanya berupa penafsiran berdasarkan beberapa sumber berita Cina serta fakta yang dapat kita lihat di tempat tinggalan tersebut ditemukan.

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: