History

Kenapa Tidak Terdapat Banyak Candi di Jawa Barat*

Meskipun terdapat beberapa candi seperti candi Cangkuang di Garut, Bojong Menje di Bandung Timur dan kompleks percandian di Batujaya Karawang tetap masih kalah jauh dari wilayah lain di pulau Jawa, baik secara jumlah maupun kemegahannya. Padahal dalam sejarahnya, pengaruh agama Hindu-Budha (agama yang memiliki budaya pendirian candi-candi tersebut)  di Jawa pertama kali terdapat di wilayah Barat Jawa dengan kerajaan Tarumanagaranya (sekitar 3 s/d 5 Masehi).

Memahami religi yang berkembang di lingkungan masyarakat Sunda Kuna agaknya merupakan kunci untuk memahami hal tersebut. Karena dalam masyarakat  tradisional religi berkaitan erat dengan perkembangan peradabannya. Tidak satupun kebudayaan di dunia ini yang lepas dari pengaruh religi. Lihat betapa megahnya masyarakat mesir membangun bangunan-bangunan untuk memuja dewa Matahari atau kebudayaan Yunani dengan para dewa-dewa Olimpusnya. Hal ini berlaku pula bagi kebudayaan Indonesia kuna masa Hindu-Buddha.

Masyarakat Jawa Barat pada masa lalu atau Sunda Kuno tentu mengenal ajaran Hindu-Buddha sebagaimana yang dikenal oleh masyarakat sezaman lainnya di Pulau Jawa. Namun apa yang membedakan sehingga berpengaruh pada peninggalan-peninggalan bangunan suci yang ditingalkannya. Jika masyarakat Jawa Kuna meninggalkan bermacam bukti arkeologis di wilayahnya, seperti: candi, petirthaan, stupa, dan lain-lain, masyarakat Sunda Kuna hanya sedikit saja meninggalkan bangunan suci seperti itu. Andaikata peninggalan bangunan suci tersebut menjadi tolok ukur, maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat Jawa Kuna jauh lebih baik dalam penghayatan dan pelaksanaan peribadatannya, sedangkan masyarakat Sunda Kuna agaknya sangat kurang menghayatinya, karena terbatasnya bangunan suci yang ditinggalkannya.

Pemahaman kosep agama oleh masyarakat Sunda Kuna dapat kita telusuri melalui naskah-naskah kuno dari masa kerajaan Sunda. Selain itu bukti arkeologi pun dapat kita jadikan satu data pembanding. Dari berbagai sumber naskah kuno nampak masuknya agama Hindu-Budha jelas tidak dapat merubah kepercayaan masyarakat terhadap roh leluhur bahkan sebaliknya pada masa selanjutnya dapat berinteraksi dan akhirnya menjadi sinkritisme. Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian (1518 M) menerangkan adanya percampuran antara agama Hindu-Saiva dan Buddha dengan suatu bentuk ”agama pribumi”.

”…mangkubumi bakti di ratu, ratu bakti di dewata, dewata bakti di hyang…” (”…mangkubumi tunduk kepada raja, raja tunduk kepada dewata, dewata tunduk kepada hyang…”)

Tokoh “Hyang”, tentunya berasal dari konsepsi ”agama asli”, tokoh itu dibedakan dengan dewa-dewa Hindu-Buddha. Ternyata kedudukan dewa-dewa yang berasal dari konsepsi keagamaan India tersebut diposisikan lebih rendah daripada Hyang yang merupakan kekuatan transendent dari ”agama Sunda”.

Hal yang hampir setara dijumpai pula dalam kitab Tantu Panggelaran dan Korawasrama berasal dari kebudayaan Jawa Kuna dalam kronologi yang hampir semasa dengan Sanghyang Siksakandang Karesian (abad ke-15 M). Disebutkan adanya tokoh supernatural yang disebut dengan Sanghyang Taya, kedudukannya lebih tinggi dari Sanghyang Parameswara (Batara Guru). Taya berarti ”tidak ada”, dalam bahasa Sunda disebut dengan teu aya. Menurut R.M.Ng. Poerbatjaraka kata tersebut untuk menyebutkan dewa tertinggi dari konsepsi Jawa asli, jadi bukan dewata dari India, artinya setara dengan Sanghyang Wenang ataupun Sanghyang Tunggal yang mengacu kepada konstrak tentang Kekuatan Yang Maha Kuasa.

Dalam kitab Sunda Kuna yang disusun dalam bahasa Jawa Kuna, yaitu Serat Dewabuda (1435 M) dinyatakan bahwa terdapat alam lain yang berada di atas alam Swarloka (Hindu) ataupun Sunyata (Buddha). Alam itu dinamakan Taya, yang terdiri dari Taya, Paramataya, Atyantataya, Nirmalataya, Sunammataya, Acintyataya, serta lapisan paling atas terdapat Abhyantarataya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat konsepsi tentang suatu kekuatan supernatural yang bukan berasal dari ajaran agama-agama India, justru suatu kekuatan yang mungkin pernah berkembang sebelumnya, jauh sebelum kedatangan pengaruh India.

Kembali ke pokok masalah tentang keberadaan candi-candi di wilayah Jawa Barat. Candi merupakan satu bangunan yang didirikan sebagai persembahan terhadap dewa-dewa yang diantut oleh para pendirinya. Sedangkan masyarakat Sunda Kuna jelas menempatkan Hyang diatas kedudukan para dewa, begitupun dengan ajarannya. Dalam karya-karya sastra Sunda kuna tidak ada gambaran ikonografi yang lengkap dan rinci perihal personifikasi dewa-dewa sebagaimana yang ditemukan dalam karya-karya sastra Jawa Kuna. Hal itu menunjukkan bahwa wujud arca dewa tidak begitu dipentingkan, apabila ada penggambaran arca dewa, maka bentuknya pun sederhana malahan mirip dengan arca-arca prasejarah dari tradisi megalitik.

Selanjutnya hal yang dapat digali dari karya-karya sastra Sunda Kuna adalah bahwa dewa-dewa Hindu-Buddha itu tetap dikenal dan dihormati, namun kedudukannya lebih rendah dari konsep Sanghyang. Hal yang dapat ditafsirkan selanjutnya adalah konsepsi dari agama-agama India tersebut hanya merupakan kulit luar saja dari suatu bentuk religi yang meneruskan tradisi megalitik dengan memuja arwah leluhur.

Lalu timbul pertanyaan lain, sebagai wujud dari penghayatan terhadap keyakinan apakah masyarakat Sunda Kuna membangun sebuah bangunan sebagai simbol tempat bersemayamnya Hyang? Bangunan seperti apakah?

Sumber-sumber Prasasti seperti prasasti Kebantenan, Batu Tulis dan naskah kuno yang berasal dari masa kerajaan Sunda nampak tidak secara spesifik menggambarkan bangunan-bangunan sucinya. Namun beberap sumber memberikan gambaran bahwa terdapat beberapa daerah suci yang sangat dikeramatkan. Menurut penelitian Agus Aris Munandar dan Hasan Djafar  dari sumber tertulis dapat diketahui bahwa masyarakat Sunda Kuna mengenal adanya 4 macam tempat suci, yaitu Dewasasana, Kawikuan, Kabuyutan, dan pertapaan. Selain itu, masyarakat Sunda Kuna juga mengenal satu macam bangunan/ tempat yang dikeramatkan lainnya, yaitu Sakakala atau Salaka atau sasaka. Ketiga nama tersebut jelas mengacu kepada satu tempat yang sama yaitu satu tempat yang suci dan dikeramatkan.

Beberapa sumber naskah kuna seperti Sanghyang Siksakandang Karesian, Serat Dewabud, Amanat Galunggung, Bujangga Manik dan sebagainya,  selalu menggambarkan bahwa tempat-tempat suci tersebut berada di sebuah gunung atau tempat tinggi lainya. Dengan kata lain gunung merupakan satu tempat suci tempat tinggalnya para leluhur. Bahkan dalam cerita Bujangga Manik seorang agamawan yang hidup dalam masa akhir kerajaan Sunda menjelaskan bahwa tempat suci (Kabuyutan) bagi seluruh rakyat Pakuan adalah Gunung Gede. ”Sadatang ka Bukit Ageung: eta hulu Cihaliwung, kabuyutan ti Pakuan, sanghiang Talaga Warna” (”Setelah datang ka Bukit Ageung [Gunung Gede]: tempat mata airnya Sungai Ciliwung, kabuyutan bagi rakyat Pakuan, Sanghyang Telaga Warna).  Pernyataan Bujangga Manik itu seakan hendak menyatakan bahwa Gunung Gede merupakan gunung yang disucikan oleh rakyat Pakuan, termasuk juga Telaga Warna di Bogor.

Apabila diperhatikan situs-situs yang berasal dari periode pra-pengaruh India di Jawa bagian barat (masa prasejarah), situs-situs tersebut berlokasi di dataran tinggi atau gunung-gunung. Situs-situs megalitik yang tersebar di wilayah pegunungan Jawa bagian barat antara lain di Gunung Padang (Cianjur), Pangguyangan, Salak Datar, Ciarca  (Sukabumi), Lebak Sibedug (Banten), Cipari (Kuningan), Arca Domas (gunung Salak-Bogor) dan puluhan lainnya di wilayah Ciamis dan Garut; menunjukkan bahwa pemuliaan terhadap tempat tinggi atau gunung telah dikenal sejak masa prasejarah. Ketika ajaran agama Hindu dan Buddha memperkenalkan gambaran makrokosmos yang berpusatkan kepada Gunung Mahameru, gunung suci tempat persemayaman dewata,  hal itu bukan merupakan barang baru lagi. Pemujaan terhadap gunung sebagai tempat suci dan titik pusat suatu wilayah tertentu di tatar Sunda telah dikenal

Oleh karena itu, sedikit meragukan apabila kita selalu memasukan peninggalan megalitik sebagai bagian dari masa praseCategoriesjarah. Bila mengacu keterangan di atas jelas bangunan-bangunan seperti Punden berundak, batu tegak atau menhir dan sebagainya kemungkinan besar berasal dari masa sejarah, yaitu masa kerajaan Sunda Kuno. Namun dari segi tradisi, megalitik memang muncul pada masa prasejarah, sekitar 4000 tahun yang lalu namun kemudian tradisi ini berlanjut dan melebur bersama agama pendatang (Hindu-Budha) menjadi satu ciri khas tersendiri seperti pada kehidupan religi masyarakat Sunda Kuno.

*Tulisan ini pernah dimuat di Harian Pikiran Rakyat (WARNA INDONESIA)

Advertisements

Discussion

One thought on “Kenapa Tidak Terdapat Banyak Candi di Jawa Barat*

  1. like this…. ^_^

    Posted by Tikeeee.... | March 1, 2012, 10:41 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: